SKRIPSI
ANALISIS KUALITAS GULA AREN CETAK (Arenga Pinata merr) PRODUKSI KTH RIMBA RAYA DAN KTH HARMONIS DI KAWASAN KPH DOLAGO TANGGUNUNG
RINGKASAN
Aidil Muarif – L13121066. Analisis Kualitas Gula Aren Cetak (Arenga Pinata
merr) Produksi Kth Rimba Raya Dan Kth Harmonis Di Kawasan Kph Dolago
Tanggunung di Bimbing Oleh Abdul Hapid dan Erniwati.
Aren merupakan salah satu HHBK yang banyak diproduksi, salah satunya
produksi aren adalah nira yang dapat menghasilkan berbagai produk turunan lain,
seperti cuka, gula aren (yang biasa juga disebut dengan gula merah atau gula batu)
dan gula semut. Produksi gula aren di KTH Rimba Raya dan KTH Harmonis
merupakan produk unggulan dari kedua KTH tersebut. Penelitian ini bertujuan
untuk mengetahui perbandingan kualitas gula aren yang berada di KTH Rimba
Raya dan KTH Harmonis.
Penelitian ini dilaksanakan selama 3 bulan dari bulan September sampai
dengan November 2024. Pengujian kualitas gula semut dan gula aren dilakukan di
Laboratorium UPT. Pengujian Sertifikasi Mutu Barang. Penelitian ini
menggunakan metode experimental dengan 2 sampel yang berasal dari KTH Rimba
Raya dan KTH Harmonis. Parameter yang di teliti adalah kadar air, kadar abu, kadar
gula pereduksi, dan kadar sukrosa. Selanjutnya dilihat dan dibandingkan dengan
Standarisasi Indonesia (SNI 3743-2021). Kemudian disimpulkan secara deskriptif.
Hasil penelitian kadar air gula aren diperoleh rata – rata adalah 9,32% untuk
KTH Rimba Raya dan 9,45% untuk KTH Harmonis. Rata-rata pengujian kadar abu
diperoleh 1,63% untuk KTH Rimba Raya dan 1,84% untuk KTH Harmonis. Rata-
rata pengujian kadar sukrosa diperoleh 73,48% untuk KTH Rimba Raya dan
70,85% untuk KTH Harmonis. Rata-rata pengujian kadar gula pereduksi diperoleh
4,15% untuk KTH Rimba Raya dan 4,78% untuk KTH Harmonis. Berdasarkan data
tersebut kedua KTH dinyatakan memiliki kualitas gula aren cetak yang baik karena
telah memenuhi syarat SNI, akan tetapi KTH Rimba Raya memproduksi gula aren
cetak yang lebih unggul karena memiliki kadar air lebih rendah yaitu 9,32%, kadar
abu yang rendah yaitu 1,63%, sukrosa yang tinggi yaitu 73,48%, dan gula pereduksi
yang rendah yaitu 4,15%. Hal ini dapat mempengaruhi rasa, tekstur dan masa
simpan gula aren tersebut. Faktor yang berperan dalam hal ini adalah proses
pemanenan yg tidak terkontaminasi cemaran dari luar, pemasakan dengan suhu
terkontrol juga steril, kemudian pencetakan dan pengemasan yang harus bersih agar
kemurnian gula tetap terjaga.
Tidak tersedia versi lain