SKRIPSI
ANALISIS SPASIAL SEBARAN LAHAN KRITIS PADA KAWASAN HUTAN LINDUNG DI WILAYAH KPH UNIT VIII KULAWI.
RINGKASAN
Lolo Milo Putra – L131 19 087 “Analisis Spasial Sebaran Lahan Kritis pada
Kawasan Hutan Lindung di Wilayah Kph Unit Viii Kulawi” dibimbing oleh
Abdul Rosyid Dan Ida Arianingsi
Lahan kritis adalah kondisi degradasi biofisik lahan (fisik, kimia, dan biologis) yang
terjadi akibat ketidaksesuaian pemanfaatan lahan dengan kapabilitas alaminya.
Pemetaan dan identifikasi spasial lahan kritis sangat penting untuk perencanaan
strategis dalam rangka konservasi tanah dan pengembangan sumber daya alam.
Teknologi Sistem Informasi Geografis (SIG) yang diintegrasikan dengan data
Pengindraan Jauh (seperti Landsat 8 dan DEMNAS) merupakan metode utama
untuk mengidentifikasi sebaran kekritisan lahan. Pendekatan ini mempermudah
analisis geospasial yang akurat, sekaligus mengeliminasi keterbatasan metode
pemetaan manual.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mengestimasi tingkat kekritisan
lahan yang ada di dalam kawasan hutan lindung. Secara spesifik, penelitian ini
berfokus pada wilayah KPH Unit VIII Kulawi dengan menghitung dan memetakan
luasan serta sebaran spasial tingkat kekritisan lahan di kawasan hutan tersebut.
Analisis spasial terintegrasi menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG), Citra
Satelit Landsat 8, dan DEMNAS mengklasifikasikan tingkat kekritisan lahan di
kawasan hutan lindung KPH Unit VIII Kulawi menjadi lima kelas, mulai dari Tidak
Kritis (TK) hingga Sangat Kritis (SK). Secara kuantitatif, kawasan ini didominasi
oleh tingkat kekritisan lahan Agak Kritis (AK), mencakup luasan terbesar yaitu
47.850,92 ha (41,33%), diikuti oleh kelas Potensial Kritis (PK) dengan 42.055,69
ha (36,33%). Tingkat Tidak Kritis (TK) seluas 17.777,81 ha (15,36%) dan Sangat
Kritis (SK) seluas 7.196,57 ha (6,22%) tersebar lebih terbatas, sementara kelas
Kritis (K) merupakan kontributor terkecil, hanya mencakup 885,31 ha (0,76%) dari
keseluruhan area studi..
Tidak tersedia versi lain