SKRIPSI
PENGARUH WADAH DAN LAMA PENYIMPANAN TERHADAP VIABILITAS BENIH NANGKA (Artocarpus heterophyllus Lamk)
NURAZIZA, L13121319, Pengaruh Wadah dan Lama Penyimpanan
Terhadap Viabilitas Benih Nangka (Artocarpus heterophyllus Lamk)
Dibimbing oleh Ibu Zulkaidhah dan Ibu Dewi Wahyuni
Nangka (Artocarpus heterophyllus Lamk) merupakan salah satu buah tropis
yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan tersebar luas di berbagai wilayah Indonesia.
Secara ekologis, nangka tergolong mudah dibudidayakan dan mampu tumbuh pada
berbagai jenis tanah dengan kondisi iklim tropis. Namun, permasalahan utama
dalam perkembangbiakkannya terletak pada karakteristik benihnya yang bersifat
rekalsitran, yaitu memiliki kadar air tinggi dan cepat kehilangan viabilitas. Oleh
karena itu, penyimpanan benih yang tepat sangat penting untuk mempertahankan
viabilitas dan daya tumbuh benih. Tujuan dari penelitian ini yaitu : 1) Untuk
mengetahui pengaruh wadah penyimpanan terhadap viabilitas benih nangka, 2)
Untuk mengetahui pengaruh lama penyimpanan terhadap viabilitas benih nangka,
3) Untuk mengetahui interaksi antara wadah penyimpanan dan lama penyimpanan
terhadap viabilias benih nangka.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode Rancangan Acak
Lengkap (RAL) dan uji sidik ragam, faktorial yang terdiri dari 2 faktor perlakuan.
Perlakuan pertama yaitu wadah penyimpanan (A) yang terdiri dari 6 taraf dan
perlakuan kedua yaitu lama penyimpanan (B) yang terdiri 2 taraf. Dimana dari hasil
kombinasi keduanya dihasilkan 12 kombinasi, yang selanjutnya diulang masing-
masing sebanyak 3 kali, sehingga total unit percobaan berjumlah 36. Adapun
parameter yang diamati yaitu kadar air benih, daya kecambah benih, dan waktu
muncul kecambah (hari). Selanjutnya, di uji lanjut pada taraf 5% jika terdapat
perbedaan yang nyata, maka dilakukan uji lanjutan Beda Nyata Terkecil (BNT)
pada taraf 5%.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan memberikan respons yang
berbeda pada setiap parameter. Kadar air tertinggi diperoleh pada perlakuan A5B2
(kotak kayu + cocopeat + penyimpanan 12 hari) sebesar 65,15%, sedangkan
terendah pada A1B2 sebesar 40,84%, menunjukkan perbedaan kemampuan benih
dalam mempertahankan kelembapan. Daya kecambah tertinggi terdapat pada
perlakuan A1B1 (kotak sterofoam + penyimpanan 6 hari) dengan nilai 4,00,
menandakan kondisi penyimpanan tersebut mampu menjaga viabilitas benih. Pada
parameter waktu muncul kecambah, A1B1 juga menunjukkan kemunculan tercepat
dengan nilai rata-rata 0,45 pada hari ke-4, sementara kemunculan terlambat terjadi
pada A6B2 pada hari ke-14. Secara keseluruhan, perlakuan A1B1 merupakan
kombinasi paling efektif dalam mempertahankan kualitas fisiologis benih dan
mempercepat proses perkecambahan. Temuan ini menunjukkan bahwa lamanya
penyimpanan dan jenis wadah berpengaruh nyata terhadap performa benih nangka,
serta dapat menjadi acuan dalam teknik penyimpanan benih rekalsitran..
Tidak tersedia versi lain