SKRIPSI
KEPADATAN POPULASI DAN HABITAT TANGKASI (Tarsius dentatus) DI KAWASAN HUTAN SEKUNDER DESA SUNGKU KABUPATEN SIGI
RINGKASAN
HOLYANSYAH KALASE – L 131 19 079, Kepadatan Populasi Dan Habitat
Tangkasi (Tarsius dentatus) Di Kawasan Hutan Sekunder Desa Sungku
Kecamatan Kulawi Kabupaten Sigi, Dibimbing Oleh Abdul Rosyid,
dan I Nengah Korja
Tangkasi (Tarsius dentatus) merupakan primata primitif (Prosimii) dari
family Tarsidae yang merupakan satwa endemik Sulawesi. Populasi dan habitat
saat ini sedang mengalami gangguan yang dapat menyebabkan penurunan
populasi. Bentuk gangguan yaitu perburuan karena dianggap sebagai hama
tanaman kebun dan konversi lahan hutan menjadi perkebunan seperti yang terjadi
di desa sungku.
Tujuan penelitian ini adalah untuk menghitung kepadatan populasi tangkasi
di hutan sekunder di Desa Sungku serta mendeskripsikan karakteristik habitat yang
mendukung keberadaan tangkasi di hutan sekunder di Desa Sungku, Pengambilan
data kepadatan populsi menggunakan metode transek dan Concertation count,
pengambilan data habitat dilakukan dengan menggunkana metode petak berganda
yang ditempatkan secara purposive sampling pada setiap tempat bersarang
tangkasi.
Hasil penelitian menunjukan bahwa kepadatan populasi tangkasi di
kawasan hutan sekunder Desa Sungku adalah berkisar antara 1 sampai dengan
2 individu/ha. Pada habitat tangkasi di kawasan hutan sekunder desa sungku, suhu
udara berkisar antara 22.4°C-26°C dengan kelembaban udara berkisar 86-98%,
sedangkan intensitas cahaya yang masuk di habitat tangkasi berkisar 537,4-200
Lux. Pengambilan data pada komponen vegetasi terdapat 56 jenis tumbuhan yang
terdiri dari 22 family, yang meliputi 14 jenis tumbuhan tingkat pohon, 16 jenis
tumbuhan tingkat tiang, 10 jenis tumbuhan tingkat pancang dan 16 jenis tumbuhan
tingkat semai. Hasil perhitungan indeks nilai penting (INP) tertinggi pada tumbuhan
yaitu: beringin (Ficus sp) (INP 64,58%), tumbuhan tingkat tiang; Nyatoh
(Palaquium obtusifolium Burck) (INP 60,27%), pancang; Bayur (Pterospermum
javanicum Jungh) (INP 32,67%) dan semai; Nyatoh (Palaquium obtusifolium
Burck) dengan (INP 25,00%).
Kesimpulan kepadatan populasi tangkasi di kawasan hutan sekunder desa
sungku menunjukkan populasi yang tidak terlalu padat atau rendah hingga sedang,
tetapi masih dalam kisaran populasi yang bisa bertahan di hutan sekunder dengan
kondisi tertentu. Sedangkan karakteristik habitat tangkasi di kawasan hutan
sekunder desa sungku menunjukan habitat ini memiliki vegetasi yang rapat dan
cukup kompleks yang menyediakan tempat berlindung dan sarang (tempat tidur)
tangkasi serta pakan yang cukup, sehingga populasi tangkasi dapat bertahan dan
berkembang di area tersebut dengan baik.
Tidak tersedia versi lain